Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora

Table of Contents

Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 87 Compulsive Gambling Addiction dan Pengaruhnya pada Kehidupan Tokoh dalam The Gambler Karya Fyodor Dostoyevsky Meria Zakiyah Alfisuma1 , Tri Pujiati2 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Trunojoyo Madura 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Trunojoyo Madura [email protected], [email protected] Kata kunci: Abstrak Compulsive Gambling Addiction, Psikoanalisis, dan The Gambler The Gambler karya Fyoder Dostoyevsky memberikan gambaran bahwa judi bisa menguasai kehidupan orang-orang yang menikmati permainan ini. Dostoyevsky dengan sukses menggambarkan perasaan yang muncul ketika bermain judi dengan sensasi-sensasi anehnya yang terus menguasai para pemain judi. Pembaca mendapatkan gambaran semua perasaan itu langsung dari seorang kepala pemain judi. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan gambaran terkait dengan kehidupan seorang penjudi dalam karya sastra The Gambler karya Fyoder Dostoyevsky. Kajian psikoanalisisi akan digunakan untuk membedah kehidupan tokoh yang terdapat dalam karya sastra tersebut sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang compulsive gambling addiction yang dilakukan oleh para tokoh tersebut. Metode penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk membedah kasus tokoh yang terdapat di dalam novel sehingga gambaran kehidupan tokoh penjudi dapat terlihat secara jelas. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari sisi psikoanalisis dengan teori Freud tentammg Id, Ego, dan Superego menunjukkan bahwa unsur Id paling dominan dalam kehidupan para penjudi. Tidak hanya itu, para tokoh mengalami compulsive gambling addiction, yaitu sebuah kondisi berupa keinginan yang tidak dapat terkontrol untuk terus bermain judi tanpa memperdulikan akibatnya pada hidupnya. Tindakan tersebut sangat sangat memberikan pengaruh pada kehidupan semua orang yang terlibat dalam judi, seperti ketamakan, tantangan pada nasib, dan perputaran hidup.

 

  Pendahuluan Karya sastra merupakan sebuah cerminan kehidupan manusia yang terjadi dalam kehidupan nyata manusia. Salah satu peristiwa yang menjadi gambaran terkait dengan kehidupan manusia sehari-hari adalah perjudian yang marak terjadi di dalam kehdiupan manusia. Gambaran kehidupan manusia terkait dengan perjudian menjadi isu hangat yang menarik untuk dijadikan sebbagai bahan untuk sebuah karya sastra, salah satunya adalah dalam karya novel yang ditulis oleh Fyoder Dostoyevsky berjudul The Gambler. Banyak orang yang mengatakan bahwa judi dapat merusak jiwa seseorang. Cara bermain judi yang dapat merusak kehidupan orang dapat digali dalam kisah tentang judi dan romantikanya dalam The Gambler. Dari kisah beberapa pecandu judi yang digambarkan dalam The Gambler, pembaca Contents lists available at Aufklarung Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora journal homepage: http://pijarpemikiran.com/index.php/Aufklarung Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 88 dapat memahami bagaimana perputaran roda judi dapat juga memutar roda kehidupan pemainnya. The Gambler dilatar-belakangi dengan kisah tentang komedi sosial yang menceritakan sisi gelap kaum bangsawan dalam kegemarannya akan judi. Ditulis dalam bentuk diari yang mengecam dan mencerca kebobrokan moral kaum bangsawan namun dengan cara yang jenaka. Tentang kehidupan Jenderal yang terjerat hutang namun berlagak seperti orang kaya dengan menggadaikan seluruh asset pribadinya untuk memperoleh uang dan mengharapkan kematian sang Granny agar mendapat warisan-warisannya. Dostoyevsky menceritakan semua karakternya dengan menggunakan sudut pandang Alexei Ivanovitch, seorang lelaki muda yang miskin namun terpelajar, yang bekerja sebagai seorang tutor pada keluarga Jenderal. Dalam diarinya, pembaca dapat mengerti bagaimana Alexei melihat aktor-aktor didepannya sedang bersandiwara demi sebuah gengsi dan prestise. Dengan gaya menulis buku harian, pembaca dapat mengerti jalannya cerita dari sudut pandang Alexei.

 

  Penelitian ini berupaya untuk menggali kehidupan tokoh pemain judi yang bisa dijadikan sebagai gambaran realita yang terjadi dalam kehidupan nyata. Kehidupan penjudi ini akan dianalisis dengan menggunakan pisau analisis psikoanalisis. Adapun fokus dari penelitian ini untuk melihat apa yang dituliskan Dostoyevsky lewat buku harian seorang penjudi ini mengajak pembaca untuk merasakan dan memahami mengapa orang yang sudah bermain judi tidak dapat menghentikan permainan itu sampai semua yang dimiliki sudah habis di meja judi. Mengapa orang tidak bisa berhenti bermain judi dapat dianalisa dengan menggunakan teosi psikologi tentang Compulsive Behavior: Compulsive behavior is behavior which a person does compulsive in other words, not because they want to behave that way, but because they feel they have to do so. Mental health professionals have Identified signs of compulsive behavior in various disorders such as: Obsessive–compulsive disorder – obsessive, distressing, intrusive thoughts and related compulsions which attempt to neutralize the obsessions. http://en.wikipedia.org/wiki/Compulsive_behavior Tindakan kompulsif adalah tindakan dimana seseorang berlaku secara kompulsif bukan karena mereka ingin bertindak seperti itu namun karena mereka merasa mereka harus berlaku seperti itu Dalam artian dimana seorang melakukan sesuatu bukan karena didorong oleh karena mereka ingin melakukannya namun karena mereka merasa mereka harus melakukannya. Sedangkan Compulsive Gambling addiction adalah keinginan yang tidak dapat terkontrol untuk terus bermain judi tanpa memperdulikan akibatnya pada hidupnya. Jika sudah condong pada compulsive gambling, biasanya akan terus bertarh, menyembunyikan tindakan bahkan bisa mengarah pada tindakan mencuri atau menipu untk mendukung ketergantungan pada judi http://www.mayoclinic.com/health/compulsive-gambling/ds00443.

 

  Metode Penelitian ini mengkaji tentang compulsive gambling addiction, yaitu sebuah kondisi berupa keinginan yang tidak dapat terkontrol untuk terus bermain judi tanpa memperdulikan akibatnya pada hidupnya. Penelitian ini menggunakan novel The Gambler karya Fyoder Dostoyevsky. Penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dan bersifat deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah kehidupan psikologi tokoh penjudi dengan menggunakan kajian psikoanalisis. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data pada penelitian ini antara lain sebagai berikut: 1. Membaca dengan cermat novel The Gambler karya Fyoder Dostoyevsky dari awal sampai akhir; 2. Menentukan data tertulis yang akan dipakai untuk analisis dalam penelitian; 3. Memindahkan data tertulis ke dalam catatan data; Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 89 4. Mengumpulkan sumber data pustaka dan data dari sumber lain. 

 

 Hasil dan Pembahasan Sebagai seorang outsider dan pelayan, Alexei dengan bebasnya dapat mengobservasi dan terlibat gelombang kehidupan yang mengelilingi kehidupan keluarga Jenderal dan teman-temannya dari golongan bangsawan. Dia sadar tentang status sosialnya dan selalu mencemburui serta mengejek kebangsawanan keluarga Jenderal dan teman-temannya. Ketika ia mengamati apa yang terjadi dalam kehidupan kelas sosial yang tinggi dia selalu mencemoohkannya dan mencercanya dengan kritik-kritik pedasnya. Orang yang paling sering dia kritik di sini adalah orang prancis, de Grieux, dan Jenderal. Alexie sangat membenci de Grieux karena kedekatannya dengan Polina dan juga karena sifatny yang licik. Dia selalu terlibat pertengkaran dengan de Grieux. De Grieux adalah seperti semua orang Prancis; riang dan sopan ketika perlu dan menguntungkan untuk berbuat demikian, dan tidak tertahankan membosankan jika perlunya untuk berbuat sopan dan riang berakhir..... Seorang Prancis yang wajar bersikap paling kampungan, picik dengan pikiran praktis yang biasa-nyatanya dia adalah orang yang paling menjemukan di dunia. (Dostoyevsky, 2010: 88) Jenderal selalu tidak dihormati oleh Alexei. Alexei Ivanovitch mengamati bagaimana Jenderal bermain judi dan menggolongkannya pada permainan judi untuk bangsawan dimana kekalahan bukanlah hal yang harus ditangisi. Seorang pria yang terhormat tidak boleh menunjukkan perasaannya bahkan ketika dia kehilangan semua kekayaannya. Seorang aristrokrat harus bisa menunjukkan bahwa nilai uang jauh ada dibawah nilai harga diri. Bahkan dalam bermain judipun kaum bangsawan memiliki cara tersendiri yang elegan karena mereka tidak boleh menunjukkan perasaan mereka sebenarnya ketika kalah atau menang. Karena yang terpenting bukan pada jumlah kekalahan dan kemengannya. Namun lebih pada gengsi dan prestise kaum bangsawan. Siapapun pria yang betul-betul terhormat tidak boleh memperlihatkan perasaannya bahkan kalau dia kehilangan seluruh kekayaannya. Uang harus menjadi sesuatu yang jauh lebih rendah dari harga dirinya yang terhormat dan nilainya jarang diperhatikan. Tentu saja akan sangat aristokratik untuk tidak memperhatikan kemesuman dari semua rakyat jelata dan seluruh lingkungan sekitar. (Dostoyevsky: 2010: 25) Para bangsawan tidak boleh menunjukkan keserakahan untuk memperoleh keuntungan . mereka hanya bermain untuk hiburan dan kesenangan. Kalah atau menang mereka harus tetap tersenyum dengan penuh harga diri bahwa uang bukanlah hal yang utama. Itu hanyalah sebuah permainan saja.

 

  Demikian halnya dengan Jenderal, meskipun dia sangat sangat membutuhkan uang. Dia tetap tersenyum dan menjaga harga dirinya ketika kalah dalam jumlah yang besar. Meskipun dalam hatinya bisa dipastikan bahwa dia sangat marah sekali dengan kekalahannya.

 

  Dia pergi dengan tersenyum dan menjaga harga dirinya. Aku yakin bahwa dia geram di dalam dan kalau dia bertaruh dua atau tiga kali sebesar itu dia tidak akan bisa menjaga harga dirinya dan akan memperlihatkan perasaannya yang sebenarnya. (Dostoyevsky: 2010; 24) 

 

 Dari uraian diatas pembaca dapat melihat kepura-puraan yang ditunjukkan oleh keluarga bangsawan. Dimana meskipun dia sangat membutuhkan uang namun dia tidak boleh menunjukkan bahwa dia sangat menginginkannya. Jenderal sendiri adalah orang yang sudah bangkrut dan berhutang banyak pada the Griux, seorang marquis dari Perancis. Namun dia harus menunjukkan bahwa dia bangsawan yang kaya. Sehingga ketika dia kalah dia tidak menunjukkan ekspresi kesedihannya. Dia hanya menanggapi kekalahannya dengan senyum dan pergi. 

 

  Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 90 Permasalahan yang berhubungan dengan uang mengarahkan semua karakter dalam The Gambler ke arah permainan judi yang dianggap sebagai penyelesai masalah namun pada akhirnya membuat permasalahan menjadi semakin rumit. Pembaca dapat melihat bahwa semua karakter mempunyai cara yang berbeda dalam berhubungan dengan tema sentral novel ini yaitu judi. 

 

 Alexei Ivanovich Alexie berhubungan dengan judi karena dia merasa bahwa dari judi ada kesempatan untuk menjadi kaya. Baginya judi roulette menjanjikan akan kemenangan yang gemilang yang akan merubah hidupnya menjadi jutawan atau bahkan masuk ke kedalam kelas sosial yang lebih tinggi. Aku tahu dengan pasti, dan sudah lama memustukannya sebelumnya, bahwa aku seharusnya tidak akan meninggalkan Roulettenburg tanpa berubah, bahwa suatu perubahan yang radikal dan mendasar akan terjadi dalam takdirku; itu yang harus terjadi dan itu yang akan terjadi. (Dostoyevsky, 2010: 20) Memang benar telah terjadi sesuatu dengan kehidupan Alexie, apalagi setelah kemenangan besarnya yang membuatnya menjadi jutawan dadakan. Namun kehidupan itu hanya berlangsung hanya beberapa minggu saja. Ditangan Mlle. Blanche, uang sebesar seratus ribu franc habis dalam kesia-sian. Tidak ada yang tersisa selain keterpurukan karena kecanduan judi roulette. 

 

 Apa yang bisa aku katakan mengenai Paris? Itu kegilaan, dan ketololan. Aku hanya melewatkan tiga minggu lebih sedikit di Paris, dan diakhir waktu itu seratus ribu francku lenyap. (Dostoyevsky, 2010: 251)

 

  Polina Alexandrovna Untuk menebus semua asetnya yang digadaikan aYa tirinya pada de Grieux, Polina bekerja sama dengan Alexie dalam bermain judi. Alexie diminta untuk bermain judi roulette untuknya dengan system bagi hasil. Namun hal itu tidaklah menyelesaikan masalah karena judi dengan segala daya tariknya membuat semua orang yang bermain tidak akan bisa berhenti sampai kehabisan uang. 

 

 ”Masalahnya bukan itu sekarang. Dengar dan ingatlah: ambil tujuh ratus florin ini lalu pergi dan mainlah. Menangkan sebanyak yang kau bisa dalam roulette; aku harus punya uang sekarang, terjadilah apa yan terjadi.” ( Dostoyevsky, 2010; 15) Jelas bahwa Polina sangat membutuhkan uang sehingga ia menyuruh Alexei untuk bermain untuknya. Granny (Antonida Vasilevna) Sedangkan Granny, sosok bangsawan rusia tua yang diharapkan segera mati agar mendapatkan wasiat sehingga semua masalah hutang Jenderal selesai, malah berbuat kekacauan dengan ikut bermain judi. Dostoyevsky dengan lihainya menggambarkan kedatangan granny ke Jerman dengan situasi yang lucu dan menegangkan. Melihat Granny, Jenderal terkejut membisu. Mulutnya terbuka dan dia berhenti di tengah kata. Dia memandangnya dengan mata terbuka lebar, seakan terpesona oleh mata ular raksasa. Granny melihat kepadanya dengan diam juga, tak bergerak namun dengan pandangan yang begitu penuh kemenangan, menantang dan ironis! (Dostoyevsky, 2010: 121) Granny datang untuk membuktikan bahwa dia masih sehat dan hidup. Jauh dari apa yang digosipkan selama ini bahwa dia sekarang sedang sekarat dan akan segera meninggal seperti yang diharapkan oleh Jenderal. Granny tertarik dengan judi karena ingin mengetahui seperti apa judi roulette yang telah menghabiskan uang Jenderal. Dengan bantuan Alexei, dia mengerti cara-cara berjudi roulette dan ingin mencobanya. Namun judi roulette telah menariknya dalam pusaran yang Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 91 

 

 tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sampai akhirnya granny telah kehilangan sebagian besar kekayaannya, semua uang yang dibawanya, obligasinya, semua saham-sahamnya yang telah ditukarkan dengan uang. Semua habis hanya dalam hitungan jam. Ya, tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan semua itu di meja judi roulette. Jenderal Jenderal adalah orang yang sudah bangkrut. Dia telah menggadaikan semua hartanya pada de Grieux demi gengsi seorang bangsawan. Dia telah merampok harta milik anak- anaknya karena semuanya akan habis tak tersisa bagi anak-anaknya. Dia mengharapkan kematian bibinya agar mendapatkan warisan sehingga dia bis amelunasi hutang-hutangnya pada orang prancis itu.

 

   Jenderal juga bermain judi namun dia bermain ala bangsawan. Dimana judi hanyalah sebuah permainan. Kalah atau menang dia hanya tersenyum walaupun didalam hatinya mungkin dia akan mengutuki kekalahannya. Tapi itulah Jenderal, seorang bangsawan yang hidup dalam kepura-puraan. Menutupi kemiskinannya dengan berhutang pada de Grieux hanya untuk menarik perhatian Mlle. Blanche. Secara tidak langsung, judi yang dilakukan oleh bibinya telah menghancurkan hidup Jenderal. Warisan yang selalu diharapkan dari bibinya akhirnya harus habis di meja judi roulette. Dia akhirnya menjadi gila, tertekan karena banyaknya hutang yang harus ditanggung ditambah dengan kepergian Mlle. Blanche, dan de Grieux yang menjual semua harta yang digadaikannya.  

 

  Madamoiselle Blanche De Cominges Mlle. Blanche adalah wanita penggoda yang hanya peduli dengan uang. Dia akan selalu mengikuti laki-laki yang dianggap bisa membuatnya kaya raya. Dalam The Gambler, dia selalu mengikuti Jenderal dengan harapan dapat menjadi isterinya. Pada saat itu beredar rumor bahwa Jenderal akan mendapatkan warisan dengan jumlah yang sangat banyak dari Granny. Namun dia akhirnya meninggalkan Jenderal karena Granny telah menghabiskan hartanya di meja judi. Dia malah mengajak Alexei ikut ke Paris dengannya karena Alexei baru saja memenangkan uang dalam meja judi dalm jumlah yang sangat banyak. Dari cerita Mr. Astley, dapat diketahui bahwa Mlle. Blanche dulunya pernah dilarang pergi ke kasino karena berhutang sangat banyak dalam kekalahannya bermain judi dan ditinggal oleh seorang pangeran yang diikutinya karena dianggap kaya. Mlle. Blanche biasa bermain trente et quarante, pada mulanya menang, namun akhirnya keberuntungannya berubah, sepanjang yang aku ingat. Aku ingat suatu malam dia kehilangan sejumlah uang yang sangat besar. Tapi lebih buruk lagi, un beau matin pangerannya lenyap; kuda-kuda dan kereta juga lenyap; semuanya lenyap. (Dostoyevsky, 2010; 106) 

 

 Mlle. Blanche diminta polisi untuk pergi meninggalkan kota. Karena tidak mampu membayar hutang-hutangnya. Namun sekarang Mlle. Blanche masih tetap bermain judi dengan cara meminjamkan uang pada pemain judi dan berbagi keuntungan. Dia ingin menikah dengan Jenderal agar tidak diusir oleh polisi lagi.

 

  Marquis De Grieux De Grieux adalah orang yang meminjamkan uang pada Jenderal dengan jaminan semua aset Jenderal. Dia adalah seorang marquis baru dan merupakan kawan Jenderal. Di dalam The Gambler dikisahkan dia mempunyai hubungan kekerabatan dengan Mlle. Blanche. Dia terlibat hubungan cinta dengan Polina karena hubungan hutang piutang dengan ayah tiri Polina, Jenderal. Sama dengan Mlle. Blanche, de Grieux bermain judi dengan cara memberikan modal bagi para penjudi. Dia tidak langsung bermain namun berbagi hasil dengan penjudi tersebut. Kajian Psikoanalisis pada Compulsive Gambling Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 92 Apabila diamati, ada dua karakter utama dalam The Gambler yang dapat dikategorikan sebagai Compulsive Gambler, yaitu Alexei dan Granny. Segera setelah mereka berkenalan dengan judi Roullette, mereka langsung terikat dan tidak bisa lepas sampai mereka kehilangan semua yang mereka pertaruhkan. Karena ketika mereka menang mereka tergoda lagi untuk main karena masih ada harapan baru dan mereka akan terus bermain sampai sudah tidak ada lagi yang mereka sisakan untuk hidupnya. Aku takjub bagaimana dia bisa tahan selama tujuh atau delapan jam duduk disana, dikursinya dan hamper tidak meninggalkan meja, tapi Potapitch berkata padaku bahwa tiga atau empat kali dia mulai memenangkan jumlah yang besar; dan, terbawa oleh harapan baru, dia tidak bisa memaksa dirinya pergi. Namun para penjudi tahu bagaimana seseorang dapat duduk selama hamper dua puluh empat jam dalam permainan kartu, tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. (Dostoyevsky, 2010: 202) Granny tidak bisa memaksa dirinya pergi karena ketika dia berjudi dia bertindak karena dia harus berlaku seperti itu. Granny dalam keadaan dimana bermain judi bukan karena ingin tapi karena harus terus bermain, harus terus mencoba karena ketika menang dia terbawa oleh harapan baru akan menang lagi.

 

  Sebenarnya Alexei dan Granny memulai bermain judi dengan alasan yang berbeda. Alexei berpikir bahwa “Uang adalah segalanya” sedangkan Granny hanya ingin membuktikan kepada keponakannya, Jenderal, bahwa dia masih memiliki kekuasaan atas harta kekayaannya. 

 

 Sebenarnya dalam kepala Alexi masih ada pertimbangan-pertimbangan moral tentang judi, tentang menggelikannya jika seseorang harus menggantungkan nasibnya pada Roullette. Sepertinya menggelikan bahwa aku harus mengharapkan begitu banyak untuk diriku sendiri dari roulette, namun aku menganggap bahwa lebih menggelikan pendapat konvensional yang diterima oleh semua orang bahwa sungguh bodoh dan tak masuk akal untuk mengharapkan sesuatu dari judi. Dan kenapa judi lebih buruk dari cara- cara lain memperoleh uang-misalnya berdagang? Memang benar bahwa hanya ada satu diantara seratus yang menang, tapi apa artinya itu untukku? ( Dostoyevsky, 2010: 20) Namun Alexie menolak pandangan orang umum tentang judi, dia merasa bahwa itu bukan urusannya. Ketika mempelajari tentang judi roulette dia menyadari bahwa banyak sekali hal- hal yang jauh dari moral seperti ketamakan dan keserakahan yang diperlihatkan oleh para pemain judi roulette. Untuk pertama kali semua itu mengejutkanku karena begitu mesum, mengerikan dan dan mesum secara moral. Aku sama sekali tidak berbicara mengenai wajah-wajah yang serakah dan cemas yang diperlihatkan oleh lusinan bahkan ratusan, kerumunan orang-orang disekeliling meja judi. Aku sama sekali tidak melihat sesuatu yang mesum dalam harapan untuk memenangkan secepat dan sebanyak mungkin. (Dostoyevsky, 2010: 21) Karena dia dirasuki oleh keinginan yang besar untuk menang, dia tidak perduli tentang ketamakan yang diakibatkan oleh judi roulette ini. Dia menganggap jika sampah ketamakan akan terasa menyenangkan dan nyaman jika kita menyukainya. Untuk lebih jauh memahami bagaimana kedua tokoh dalam The Gambler, Alexei dan Granny, mengalami Compulsive Gambling Analysis, pembaca menggunakan perspektif psikoanalisis utamanya dari sudut pandang tiga sistem dalam kehidupan, Id, ego dan superego. Dalam pemahaman psikoanalisis ketiga faktor tersebut diberi istilah khusus yaitu tiga ”instansi”. Interaksi ketiga faktor atau instansi itulah yang dari sudut pandang psikoanalisis akan menentukan corak kepribadian seseorang. Ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk totalitas dan tingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk interaksi ketiganya. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial (Corey, 2003:14). Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 93 

 

  Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai ketiga sistem kepribadian menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud. Id Menurut Corey (2003:14), Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, mendesak, dan bersifat tidak sadar. Id hanya timbul oleh kesenangan tanpa disadari oleh nilai, etika, dan akhlak. Dengan beroperasi pada prinsip kesenangan ini, Id merupakan sumber semua energi psikis, yakni libido, dan pada dasarnya bersifat seksual. Id hanya memburu hawa nafsunya saja tanpa menilai hal tersebut baik atau buruk. Ia merupakan bagian ketidaksadaran yang primitif di dalam pikiran, yang terlahir bersama indivIdu (Berry, 2001:75). Id bekerja sejalan dengan prinsip-prinsip kenikmatan, yang bisa dipahami sebagai dorongan untuk selalu memenuhi kebutuhan dengan serta merta. 

 

 Ego Ego berbeda dengan Id. Ego ialah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (Koeswara 1991:33—34). Adapun menurut Ahmadi (1992:152), ego tampak sebagai pikiran dan pertimbangan. Ego bertindak sebagai lawan dari Id. Ego memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur (Corey, 2003:14). Ego merupakan tempat berasalnya kesadaran, biarpun tak semua fungsinya bisa dibawa keluar dengan sadar (Berry, 2001:76). Superego Superego ialah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (Koeswara, 1991:34—35). Ia bertindak sebagai pengarah atau hakim bagi egonya. Menurut Kartono (1996:129) superego adalah zat yang paling tinggi pada diri manusia, yang memberikan garis-garis pengarahan ethis dan norma-norma yang harus dianut. Superego lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan, karena itu dapat dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Menurut Corey (2003:14), Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, mendesak, dan bersifat tidak sadar. Id hanya timbul oleh kesenangan tanpa disadari oleh nilai, etika, dan akhlak. Dengan beroperasi pada prinsip kesenangan ini, Id merupakan sumber semua energi psikis, yakni libido, dan pada dasarnya bersifat seksual. Id hanya memburu hawa nafsunya saja tanpa menilai hal tersebut baik atau buruk. Ia merupakan bagian ketidaksadaran yang primitif di dalam pikiran, yang terlahir bersama indivIdu (Berry, 2001:75). Id bekerja sejalan dengan prinsip-prinsip kenikmatan, yang bisa dipahami sebagai dorongan untuk selalu memenuhi kebutuhan dengan serta merta. Setelah mengenal Judi Roullette, kehidupan Alexei lebih didominasi oleh unsur Id. Bahkan dorongan unsur Id dalam diri Alexei demikian kuat sehingga kehidupan Alexei menjadi sedemikian bebas lepas dari kendali nalar dan moral. Bagaikan kuda liar, libidonya sedemikian bebas menyeret kehidupannya dalam pengembaraan yang hanya berisi nafsu seksual dan berjudi. 

 

 Secara eksplisit, kekuasaan aspek Id dalam hidup Alexei diceritakan sendiri oleh Alexei dalam catatan hariannya. Dia mengatakan bahwa karena kemenangan semuanya menjadi berubah bahkan cintanya yang sangat mendalam terhadap Polina. Dan aku terpikat pada merah dan hitam. Seluruh kasino berkerumun di sekitar. Aku tidak ingat apakah aku pernah sekali memikirkan Polina sepanjang waktu itu. Aku mengalami kegembiraan yang melimpah dalam mengumpulkan dan membawa pergi uang kertas yang menumpuk di depanku. (Dostoyevsky, 2010; 228) Kecanduannya pada judi telah menggantikan rasa cintanya pada Polina. Disini dapat dikatakan bahwa libido Alexei yang sebelumnya mengarah pada seksual yaitu Polina berganti dengan judi.

 

  Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 94 Bahkan judi sudah menggantikan kebutuhan pokok Alexie pada makanan karena dia sudah tidak memperdulikan akan makan apa dan lebih memilih untuk mempertaruhkan uang terakhirnya pada judi. Sama halnya dengan Alexei, ketika Granny mengenal judi roulette, unsur Id lebih mendominasi pemikirannya. Dia tidak lagi memperhitungkan akal sehat dan nilai-nilai moral yang berlaku. Dia hanya ingin memenuhi kebutuhannya untuk bersenang-senang. Keadaan itu terus berlangsung hingga Granny telah menjual semua obligasi dan saham-sahamnya dengan harga muarah karena keinginannya untuk bermain judi demikian kuat. Namun ketika egonya terkalahkan dengan kekalahannya pada judi roulette yang ternyata hanyalah membawa bencana dan penghabisan pada hartanya, akhirnya unsur Superego Granny muncul. Dia sudah menyadari akan kesalahannya dengan bermain judi dan mengakhiri semua kekacauan yang telah ditimbulkan oleh judi. Mulai sekarang aku tidak akan menyalahkan orang-orang muda karena bertingkah, dan merupakan dosa bagiku sekarang untuk menyalahkan laki-laki malang itu, Jenderalmu juga. Aku tidak akan memberinya uang seperti yang diinginkannya, karena menurut pikiranku dia benar-benar konyol; hanya, orang tua sepertiku, aku tidak punya lebih banyak pikiran sehat daripada dia. Sesungguhnya Tuhan mencari dan menghukum kesombongan, bahkan di usia tua. Yah, selamat tinggal. (Dostoyevsky, 2010: 214) 

 

 Berbeda dengan Alexey, Granny masih dapat kembali ke dunia nyata dan menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah salah. Sehingga dia berhenti bermain judi walaupun dia masih cukup kaya dalam artian masih punya sesuatu untuk dipertaruhkan. Pengaruh Compulsive Gambling Addiction Compulsive Gambling Addiction sebagai tema utama dalam The Gambler, memberikan pengaruh yang kuat pada seluruh tokoh dalam The Gambler. Semua karakter dalam The Gambler terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan judi. Secara langsung dalam arti bahwa karakter tersebut terlibat langsung dalam judi. Sedangkan tidak langsung berarti mereka tidak langsung bermain namun meminjam orang lain atau bekerja sama dengan orang lain sebagai pemain. Dari sudut pandang seorang Alexei, pembaca dapat melihat beberapa pengaruh yang muncul pada orang yang terlibat dengan judi. Ketamakan Compulsive gambling addiction memberikan efek berupa ketamakan pada semua pemain judi khususnya bagi pemain judi yang menang dalam permainan. Ketika mereka menang, mereka tidak bisa berhenti karena dipengaruhi rasa tamak dan serakah untuk mendapatkan lebih dan lebih. Rasa tamak itu sangat mempengaruhui pemain judi sehingga tidak lagi memikirkan adanya kemungkinan bisa kalah. Ketika Granny sudah menang dalam jumlah yang sangat banyak, dia masih ingin menang lagi. Dia ingin memperoleh kemenangan yang lebih besar lagi. Ketamakan itu muncul dan menguasai Granny sehingga dia tidak lagi memikirkan akal sehat. Kali ini Granny tidak memanggil Potapitch; dia punya keasyikan lain. Dia bahkan tidak berceloteh atau gemetar diluar! Dia, kalau orang dapat mengatakannya, gemetar di dalam. Dia berkonsentrasi sepenuhnya pada sesuatu, terserap dalam satu tujuan. (Destoyevsky, 154) Judi roulette demikian menguasai perasaan dan pemikiran Granny sehingga dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mencoba keberuntungannya. Meskipun Granny baru saja mendapatkan kemenangan yang sangat besar. Ketamakan telah mengalahkan akal sehatnya. Granny dalam perasaan tidak sabar dan jengkel; jelas bahwa roulette telah memberi kesan mendalam padanya. Dia tidak memberi perhatian pada yang lain dan sama sekali linglung. (Dostoyevsky, 2010: 173) Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 95 Kesan pertama Granny akan judi roulette begitu menguasai akal sehatnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan akibat yang akan ditimbulkan jika bermain judi lagi. Dia tidak memikirkan bahwa dia mungkin saja bisa kalah dalam permainan judi roulette dan ini akan mempengaruhi hidup banyak orang yang menggantungkan pada harta kekayaannya. Ya, Granny sudah melupakan semua itu. Tujuannya hanya satu yaitu mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi. Kilau emas dan tumpukan uang begitu menyilaukan mata. Hal serupa juga dialami oleh Alexey yang tidak bisa menghentikan permainannya ketika sudah menang. Walaupun sudah banyak yang memperingatkan untuk pulang namun rasa tamak untuk mendapatkan lebih dan lebih banyak uang telah mengalahkan semuanya itu. Dia tetap tinggal dan bermain yang pada akhirnya nasiblah yang menentukan keberuntungannya malam itu.

 

  Tantangan Pada Nasib Tantangan pada nasib selalu merasuki Alexey ketika dia bermain judi roulette. Meskipun dia sudah menang berkali-kali dan dia merasa bahwa dengan menang berturut- turut berarti sudah saatnya dia pergi. Namun Alexi dikuasai oleh perasaan aneh yang menghentikannya untuk pergi menjauhi meja judi ketika sudah menang. Pada saat itu aku seharusnya pergi, tapi sebuah sensasi aneh muncul dalam diriku, suatu tantangan pada nasib, keinginan sangat untuk menantangnya, untuk menjulurkan lidahku padanya. Aku meletakkan taruhan terbesar yang diperbolehkan- empat ribu gulden- dan kalah. (Dostoyevsky, 2010: 43)

 

  Walaupun pada akhirnya Alexey harus kalah dan kehilangan semua uangnya saat itu. Namun dia akan terus mencoba dan mencoba lagi dilain kesempatan. Dia selalu berfikir bahwa di meja judi selalu akan ada kesempatan baginya untuk menang dan menjadi orang kaya sehingga obsesinya untuk memiliki Polina bisa terwujud. Aku mempunyai enam belas friedrich d’or, dan di sana… di sana mungkin ada kekayaan! Aneh sebenarnya, aku belum menang, namun aku berkelakuan, aku merasa dan berpikir seperti laki-laki kaya, dan tidak bisa membayangkan yang lainnya. (Dostoyevsky, 2010: 87) Alexey dan obsesinya menjadi orang kaya tidak bisa lepas dari pengaruh judi roulette yang selalu mengiming-imingi kesempatan, tantangan perubahan nasib. Dia merasa bahwa hanya dengan judi dia bisa mewujudkan semua impiannya, menjadi kaya, terhormat dan mendapatkan cinta Polina. Tantangan pada nasib itu selalu mempengaruhi Alexei bahkan ketika dia hanya mempunyai uang terakhir untuk makan siang. Dia tergoda untuk mempertaruhkannya pada nasib dengan bermain judi roulette. Padahal itu adalah uang terakhir yang dia punyai setelah kekalahannya yang kesekian kali dalam bermain judi. Aku mempertaruhkan gulden itu pada manqué, dan benar-benar ada sesuatu yang khusus dalam perasaanku ketika sendirian di tanah asing, jauh dari rumah dan teman- teman, tidak tahu apakah kau akan mempunyai sesuatu untuk dimakan hari itu-kau mempertaruhkan gulden terakhir, terakhir, terakhirmu! Aku menang……… Dan bagaimana kalau aku kehilangan keberanian pada waktu itu? Bagaimana kalau aku tidak berani mengambil resiko?..... (Dostoyevsky, 2010: 287) Alexei lebih memilih untuk mempertaruhkan uang terakhirnya daripada untuk membeli makan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Alexie sudah sangat tergantung dengan judi. Judi sudah menggantikan kebutuhannya yang mendasar sebagai manusia yaitu makan.

 

  Perputaran Hidup Judi memberikan dampak yang dapat merubah kehidupan seseorang dalam hitungan detik. Hal ini dapat dijumpai pada karakter The Gambler yang mencandui judi. Perubahan itu terus berputar seiring dengan berputarnya judi roulette. Sebagaimana sebuah roda yang Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 96 berputar dengan cepatnya, begitu juga dengan kehidupan para pemain judi. Berputar dari atas ke bawah ke atas lagi sampai akhirnya mereka mau berhenti. Alexei merupakan contoh yang nyata dari kehidupan pecandu judi. Berpindah dari kasino ke kasino yang lain hanya untuk bermain judi telah merubah hidupnya. Roda kehidupan Alexei berubah naik keatas, turun kebawah, naik lagi keatas atau turun lagi. Namun dia tidak bisa menghentikannya. Judi telah merengut kehidupannya yang normal. Dan sekarang lebih dari satu tahun setengah telah berlalu, dan menurut diriku sendiri, aku jauh lebih buruk daripada seorang pengemis! Ya, apa artinya menjadi pengemis? Pengemis bukan apa-apa! Aku sudah menghancurkan diriku sendiri! (Dostoyevsky, 2010: 269) Hanya dengan satu putaran roda dan semuanya akan berubah. Alexei sudah membuang semua mimpi-mimpinya, semua idealimenya hanya untuk judi. Sementara itu judi juga memutar kehidupan Granny, dari seorang bangsawan kaya raya yang memiliki banyak saham dan obligasi menjadi bangkrut. Meskipun dia masih memiliki kekayaan namun hampir sebagian besar kekayaannya telah ludes di meja judi. Maafkan aku karena mengganggumu sekali lagi, kau harus memaafkan seorang wanita tua. Aku telah meninggalkan semuanya disana, temanku, hampir seratus ribu rubel. Kau benar untuk tidak pergi bersamaku kemarin. Sekarang aku tidak punya uang, tidak sesenpun. (Dostoyevsky, 2010: 213) Kehidupan keluarga Jenderal juga tidak lebih baik, mereka yang begitu mengharapkan warisan dari Granny, akhirnya menanggung depresi yang sangat mendalam akibat banyak hutang. Jenderal menjadi orang yang gila dan terus menagis. Sedangkan Polina juga mengalami depresi mendalam sehingga kesehatan jiwanya terganggu dan menjadi labil. 

 

Kesimpulan Analisis The Gambler memberikan beberapa temuan terkait dengan judi yang menjadi pusat cerita, kehidupan kaum bangsawan yang gelap, kecanduan akan judi yang sudah bersifat kompulsif, kajian psikoanalisis kejiwaan para penjudi, dan pengaruh judi bagi pemainnya. Selain menceritakan tentang judi, Dostoyevsky juga memasukkan kritik-kritik sosialnya akan kehidupan kelas sosial atas yang gemar akan berjudi. Dalam hal ini semua pemain yang terlibat adalah bangsawan kecuali Alexei. Kecanduan judi dapat dianalisis dengan menggunakan compulsive behavior yang menunjukkan bahwa mereka ingin bertindak seperti itu namun karena mereka merasa mereka harus berlaku seperti itu. Hal ini ditunjukkan oleh Granny dan Alexey. Kajian psikoanalisis Freud tentang Id, Ego, dan Superego menunjukkan bahwa para pecandu judi didominasi oleh unsur Id yang merupakan unsur kenikatan sehingga mereka terus bermain tanpa memikirkan baik-buruknya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh judi adalah munculnya rasa tamak yang selalu menginginkan untuk menang lebih banyak, tantangan pada nasib yang selalu menguasai pemikiran penjudi untuk tidak berhenti bermain karena masih ada kesempatan dan perputaran roda kehidupan yang dialami oleh para pemain judi. Dari beberapa hasil temuan di atas dalam The Gambler dapat disimpulkan bahwa The Gambler memberikan wacana yang lengkap tentang Judi dari segala aspek penyebab dan pengaruhnya.

 

  Daftar Pustaka Ahmadi, Abu dan M. Umar.(1992). Psikologi Umum. Surabaya: PT Bina Ilmu. Berry, Ruth.(2001). Seri Siapa Dia? FREUD, (penerjemah: Frans Kowa). Jakarta: Erlangga. Corey, Gerald.(2003). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (penerjemah: E. Koeswara). Bandung: PT Refika Aditama. Dostoyevsky, Fyodor. (2010). The Gambler. Surabaya: Penerbit Liris. Kartono, Kartini.(1996). Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju. Koeswara, E. (1991). Teori Teori Kepribadian. Bandung: PT Eresco. Aufklarung: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2, Juni 2022 97 http://www.mayoclinic.com/health/compulsive-gambling/ds00443 http://en.wikipedia.org/wiki/Compulsive_behavior